Advertisement

Ad code

Sebuah refleksi Purworejo Folk eps.1

 


Dalam perjalanan membangun Purworejo Folk, saya acap kali terjebak dalam micromanagement—sebuah sikap di mana saya terlalu banyak campur tangan dalam aspek teknis yang seharusnya menjadi tanggung jawab individu, perorangan, pribadi dalam tim. Niatnya mulia, ingin memastikan semuanya berjalan dengan sempurna, sesuai dengan DNA yang sudah saya persiapkan dalam cetak biru sebelum Purworejo Folk lahir. Namun, perlahan saya menyadari bahwa ini justru menjadi racun bagi sistem dan orang-orang terdekat saya.

Micromanagement: antara kontrol dan ketidakpercayaan

Plato pernah berkata, “Keunggulan bukanlah tindakan sesekali, tetapi kebiasaan.” Namun, bagaimana mungkin sebuah tim bisa membangun kebiasaan unggul jika setiap keputusan kecil mereka selalu dikoreksi, setiap gerakan mereka diawasi, dan setiap inisiatif mereka diredam? Sungguh bebal adalah nama tengah saya.

Sebagai pemimpin, kakak, yang dituakan, saya sadar bahwa terlalu banyak ikut campur dalam teknis harian bukan hanya membebani diri saya sendiri, tetapi juga membatasi ruang gerak tim. Saya ingin semua berjalan sesuai visi saya, tapi tanpa sadar saya justru menghambat sistem yang seharusnya berkembang secara mandiri.

Mengapa micromanagement berbahaya?

  1. Membunuh Kreativitas dan Inisiatif
    Saat setiap langkah tim harus melewati persetujuan saya, mereka menjadi ragu untuk mengambil inisiatif. Mereka takut salah. Mereka kehilangan keberanian untuk bereksperimen dan mencoba hal baru. Padahal, inovasi lahir dari keberanian untuk gagal. Di sisi lain saya senantiasa bilang untuk adik-adik tim untuk terus melatih "creativity muscle" dengan berdebat, berdiskusi, bahkan bermonolog dengan tema ekstrim untuk diri sendiri.

  2. Menurunkan Produktivitas
    Ketika saya terlalu sibuk mengawasi hal-hal kecil, waktu dan energi saya tersita untuk hal-hal yang seharusnya bisa didelegasikan. Akibatnya, hal-hal strategis yang lebih besar malah terabaikan. Semua rencana akhirnya hanya sebatas tulisan dalam aplikasi Notion. Minim eksekusi dan cuma menjadi angan sahaja.

  3. Membuat Tim Kehilangan Rasa Memiliki
    Orang yang tidak diberi kepercayaan tidak akan merasa memiliki. Mereka hanya akan bekerja sekadar memenuhi instruksi, tanpa ada rasa tanggung jawab yang mendalam. Jika sudah begini, Purworejo Folk bukan lagi milik bersama, melainkan hanya cerminan ego saya sendiri. Sungguh egois membuat semua menjadi tampak miris.

  4. Meningkatkan Stres dan Burnout
    Baik bagi saya maupun bagi tim, micromanagement menciptakan tekanan yang tidak perlu. Saya lelah mengawasi, mereka lelah diawasi. Hubungan kerja yang seharusnya harmonis berubah menjadi penuh ketegangan. Niat insun saya mulia, pengen hanya ada tawa dalam tim. Namun justru hal tersebut melenakan tujuan untuk bertumbuh. Tim seharusnya dibangun dari tawa, tangis, bahagia, haru.

Saya kemudian teringat pada filosofi kepemimpinan Lao Tzu:

"Seorang pemimpin terbaik adalah ketika orang-orang hampir tidak menyadari kehadirannya. Saat pekerjaannya selesai, tujuannya tercapai, mereka akan berkata: ‘Kami melakukannya sendiri.’”

Sebagai dalang dari Purworejo Folk, saya harus belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang kontrol berlebih, melainkan tentang membangun sistem yang memungkinkan orang-orang di dalamnya tumbuh. Saya harus percaya pada tim, memberi mereka ruang untuk berkembang, dan menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Bahwa manusia adalah sebaik-baiknya tempat salah.

Maka, mulai sekarang, saya akan berusaha untuk lebih mempercayai tim. Saya akan lebih fokus pada visi besar, membimbing. Karena saya percaya, sistem yang sehat bukanlah yang bergantung pada satu orang, tetapi yang bisa berjalan dengan baik meskipun tanpa pemimpinnya.

Saatnya saya belajar melepaskan. Saatnya tim saya berkembang.

Posting Komentar

0 Komentar

Comments