Kita sering diajarkan sejak kecil bahwa memaafkan itu tindakan mulia, bahwa memaafkan adalah kunci menuju kedamaian batin. Tapi pernahkah kamu berpikir, bahwa memaafkakn itu seperti air mata? Jika terlalu sering jatuh tanpa alasan yang benar-benar dalam, lama-lama orang akan berhenti menghargainya. Ia menjadi biasa, menjadi murah.
Memaafkan itu semestinya seperti karya seni langka—bukan barang obral di toko serba ada. Seperti lukisan karya maestro yang hanya ada satu di dunia, ia harus memiliki nilai yang membuat orang berpikir keras sebelum merusaknya, melukai orang lain lagi. Tapi sayangnya, orang terlalu ringan lidah untuk meminta maaf. Salah sedikit, minta maaf. Mengulang kesalahan, minta maaf lagi. Seolah-olah semua bisa dimaafkan hanya dengan lima huruf: maaf.
Padahal, memaafkan bukan tombol reset. Ia bukan penghapus yang bisa menghilangkan coretan pensil sembarangan di kertas lembaran hidup orang lain. Kalau memaafkan terlalu sering diberikan tanpa proses dan tanpa batas, orang jadi malas bertanggung jawab. Mereka tidak merasa perlu belajar dari kesalahan karena tahu, “Ah, tinggal minta maaf, beres.”
Ada kutipan dari Friedrich Nietzsche yang saya demen:
“He who despises himself still respects himself as one who despises.”
Dalam konteks ini, orang yang terlalu sering dimaafkan tanpa usaha memperbaiki, sebenarnya sedang kehilangan rasa hormat pada dirinya sendiri. Mereka menjadi terbiasa memandang rendah kesalahan yang mereka buat, karena mereka tahu akan selalu ada pintu maaf yang terbuka lebar saat diketuk.
Makanya, saya percaya bahwa memaafkanitu harus mahal. Kamu boleh jadi orang yang pemaaf, tapi kamu juga berhak menjaga integritas dan harga dirimu. Jangan biarkan orang lain mengira bahwa melukai kamu adalah hal ringan nan sepele yang bisa diselesaikan dengan satu kata maaf.
Analoginya begini, kamu punya taman indah yang kamu rawat setiap hari. Kalau orang lewat dan seenaknya menginjak bunga-bunga kamu, lalu hanya bilang "maaf" dan terus mengulanginya, bukankah lama-lama tamannya rusak? Maka dari itu, kamu berhak memagari tamanmu untuk sementara. Biar orang tahu, masuk ke taman kamu butuh sikap hormat.
Memaafkan yang mahal adalah bentuk pelajaran. Ia memaksa orang untuk merefleksikan dirinya. Untuk mengerti bahwa setiap tindakan punya konsekuensi. Dan buat kamu sendiri, menahan maaf kadang adalah bentuk cinta pada diri sendiri—bahwa kamu tidak akan membiarkan dirimu terus-menerus jadi korban dari kelalaian orang lain.
Dan begini, kadang dunia perlu tahu satu hal:
"Saya bukan orang yang sulit memaafkan, saya hanya sedang menjaga martabat maaf saya."
Karena saat maaf diberikan pada orang yang salah, bukan hanya luka yang menetap, tapi juga nilai dirimu yang ikut terkikis.
0 Komentar